Ceritaku Berkebun TOMAT RAMPAI Tanpa Pupuk Anorganik, Buahnya Sangat Lebat

Berkebun rampai (tomat) tanpa pupuk anorganik merupakan sebuah hobi dan aktivitas yang begitu menyenangkan. Dengan berkebun maka seolah diri kita telah menikmati dan menghayati betapa besar karunia Tuhan dalam menciptakan berbagai aspek kehidupan, termasuk tumbuhan yang bergitu beragam. Bahkan jika kita menghitung nikmat Tuhan, maka tak dapat dihitung satu per satu. Dan inilah yang pernah saya rasakan ketika berkebun rampai (tomat) di kebun dengan hasil yang begitu memukau.

Berkebun buah rampai (tomat, nama ilmiah: Solanum lycopersicum syn) merupakan pengalaman yang kesekian kali saya dalam membudidaya berbagai jenis tanaman holtikultura buah maupun sayur. Ayah dan ibu saya juga seorang yang sangat tekun dalam membudidaya tanaman sayur dan buah tersebut, termasuk saya juga sangat hobi berkebun.

Berkebun buah rampai sebenarnya tidak mengharuskan memiliki lahan yang berhektar-hektar, akan tetapi cukup lahan seluas 10 x 10 meter atau 5 x 5 meter pun sudah dapat dimanfaatkan sebagai lahan untuk membudidaya rampai.

Tanaman Buah Rampai Segar Organik
Tanaman Buah Rampai Segar Organik, Foto Asli Oleh: guruilmuan
Saya sendiri pun saat menanam rampai hanya menggunakan lahan seluas kira-kira 4 x 4 meter saja, dan itu saya gunakan untuk menanam rampai juga tanaman palawija lainnya seperti kacang panjang, bayam, cabai, dan pernah ditanami juga timun suri atau waluh.

Manfaat Buah Rampai (Tomat Kecil)

Adapun manfaat tomat rampai sangat beragam, ada yang digunakan untuk bahan baku kuliner masakan seperti sup, sambal ikan teri, sebagai pelengkap dalam pembuatan soto ayam, maupun untuk kepentingan pembuatan jus buah. Dalam dunia kedokteran, jus rampai dapat membantu dalam melancarkan saluran pencernaan pasien penderita usus buntu dan terkena penyakit demam berdarah dengue yang disebabkan oleh virus Dengue dari nyamuk Anopheles sp. Dalam dunia kecantikan, buah tomat seringkali dimanfaatkan untuk bahan pelembab kulit, menghaluskan kulit, serta dijadikan sebagai master wajah. Manfaat tersebut jelas banyak dirasakan oleh banyak kalangan bukan karena tanpa alasan, sebab pada buah rampai mengandung banyak vitamin A dan C. Vitamin A digunakan sebagai proses untuk menjernihkan kornea mata dalam melihat. Sementara itu, vitamin C berperan sebagai antioksidan yang dapat menangkap dan menghancurkan radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh.

Karakteristik Tanaman Rampai

Tanaman rampai mempunyai karakteristik tanaman yang lumayan tahan terhadap keadaan cuaca maupun iklim yang cukup buruk, anomali cuaca yang tak menentu. Tanaman rampai umunya mempunyai sistem perakaran serabut, batangnya tidak berkambium, setidaknya batang mengandung air 10%, sistem pembuluh angkut (xilem dan floemnya tersebar), daun tidak beraturan dan berwarna hijau kelabu, serta mempunyai bunga berwarna kuning, dan bunganya termasuk bunga majemuk. Buah yang mentah berwarna hijau, sementara itu buah yang telah matang dan siap petik umumnya telah berwarna kuning dan merah. Dalam proses penjualan rampai, biasanya para masyarakat petani menjual dalam bentuk mentah atau matang, tentu hal ini disesuaikan permintaan pasar.

Syarat Tumbuh Tanaman Rampai

Tumbuhan rampai sebaiknya ditanam pada daerah baik yang berdataran rendah maupun di dataran tinggi mulai dari ketinggian lahan 100 - 800 meter di bawah permukaan air laut. Meskipun begitu, rampai lebih baik ditanam pada daerah-daerah berdataran rendah seperti di pulau Sumatera maupun sebagian di pulau jawa. Di lampung sendiri daerah yang sangat berprospek untuk menghasilkan buah rampai yang banyak tentu di sekitaran daerah Lampung Selatan (Natar), Gisting, Tanggamus, dan daerah-daerah di sekitaran LIWA (Lampung Barat). Jenis tanah yang cocok bagi tumbuh kembang tanaman rampai adalah di tanah jenis lempung berpasir, atau tanah liat berpasir, tanah humus yang kaya akan unsur hara mineral terutama mineral Nitrogen (N) yang sangat baik bagi tanaman untuk menghasilkan tanaman yang subur, nampak sehat, dan buahnya lebat.

Buah Tomat Rampai Yang Sudah Matang
Buah Tomat Rampai Yang Sudah Matang Dari Pohonnya, Foto Original Oleh: guruilmuan.

Faktor pencahayaan sangat penting, oleh karena itu sebaiknya budidaya tanaman rampai dilakukan di lahan terbuka yang cukup menerima cahaya matahari sepanjang hari, semisal ditanam di area persawahan, di ladang, kebun, daerah tegalan, lereng pegunungan, dan maupun ditanam langsung melalui wadah polybag. Suhu/temperatur lingkungan yang diharapkan untuk budidaya menanam rampai berada pada kisaran 24 - 32 derajat celcius, dengan kelembaban udara mencapai titik 87 - 89 %.

Cara Budidaya Tanaman Rampai

Waktu saya dan ibu menanam rampai di kebun milik kami, maka ada beberapa tahapan yang kami kerjakan, seperti dijelaskan pada bagian berikut ini:

1. Penyiapan Bibit Rampai

Untuk bibit rampai kami tidak pernah membelinya ke toko tanaman atau lainnya, kami hanya fokus bagaimana mengambil bibit-bibit yang telah dikeringkan berasal dari tanaman induk yang menghasilkan buah super lebat. Cara memperoleh bibit adalah mengambil buah rampai yang telah mempunyai buah matang, kemudian buah tersebut dipencet di dalam air yang diletakkan di dalam baskom atau ember. Kemudian biji-biji tomat hasil pemencetan buah di dalam air tadi kemudian disaring, lalu dijemur di bawah terik mata hari hingga benar-benar kering. Setelah kering biji kemudian dimasukan ke dalam gelas-gelas kaca lalu tutup rapat menggunakan busa gabus. Apabila penyimpanan dilakukan dengan benar, maka bibit dapat bertahan lama hingga 3 - 12 bulan bahkan lebih. Sebaiknya biji disimpan pada tempat yang aman, kering dan terhindar dari lingkungan yang lembab.

2. Pengolahan Lahan Semai Bibit

Lahan semai bibit rampai dapat dibuat berbentuk bedengan kecil dengan ukuran panjang 2 m x lebar 1 meter x tinggi 20 cm. Kemudian di atas permukaan bedengan ditaburi pupuk kandang dari hewan ternak, barulah bibit-bibit rampai disemai di atas pupuk kandang tersebut, yang terakhir adalah disiram dengan air secukupnya supaya proses perkecambahan biji segera terjadi agar bibit cepat menghasilkan tanaman baru yang siap ditanam di lahan terbuka. Bibit biasanya akan mulai berkecambah pada umur 6 - 7 hari, dan pada masa pertumbuhan tanaman sebaiknya frekuensi penyiram tetap dilakukan hingga tanaman benar-benar mumpuni untuk segera ditanam pada lahan terbuka.

3. Penanaman Rampai Di Tanah Bedengan

Benih rampai yang sudah tumbuh menjadi tanaman muda selanjutnya harus ditanam pada tanah bedengan yang telah disediakan. Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 100 cm, tinggi bedengan 30 cm, serta panjang dan jumlah banyaknya bedengan disesuaikan dengan ketersediaan lahan yang ada.

Selanjutnya adalah membuat lubang tanam di atas bedengan setinggi 3 - 4 cm, dengan jarak antar lubang tanam satu dengan lubang tanam lainnya adalah sekitar 20 - 30 cm. Di masing-masing dasar lubang tanam yang dibuat sebaiknya beri 1/3 pupuk kandang dari tinggi lubang tanam yang dibuat. Kemudian benih tanaman muda yang telah disemai dimasukan ke dalam masing-masing lubang tanam. Ingat bahwa 1 lubang tanam hanya untuk 1 benih tanaman muda. Setelah benih dimasukan pada lubang tanam, lalu tutup lubang tanam dengan tanah yang ada di sekitarnya. Barulah setelah itu, dapat dilakukan penyiraman. Sangat direkomendasikan saat melakukan pemindahan bibit dari lahan semai ke lahan terbuka (bedengan; pada saat proses tanam), sebaiknya dilakukan pada waktu sore hari, hal ini dilakukan bertujuan untuk menghindari sengatan sinar matahari langsung bagi tanaman yang baru dipindahkan.

4. Perawatan Tanaman Rampai

Perawatan tanam rampai sebenarnya tidak begitu sulit asalkan dilakukan dengan niat yang tulus, serta keterampilan dan keuletan. Seperti pada tanaman umumnya, proses perawatan tanaman rampai (tomat) meliputi beberapa tahapan, diantaranya:

  • Tahap penyiraman: Dilakukan khusus untuk tanaman yang baru dipindahkan dari lahan semai ke lahan terbuka, sehingga seiring dengan bertambahnya usia tanaman maka intensitas/frekuensi penyiraman sebaiknya dikurangi. Intensitas penyiraman dikurangi atau bahkan dihentikan ketika tanaman sudah mulai tumbuh tinggi mencapai 15 - 20 cm atau pada saat tanaman sudah melakukan proses pembungaan.
  • Tahapan Penyulaman: Pada tahap penyulaman tanaman ini penting sekali dilakukan, sebab tidak semuanya tanaman yang ada pada bedengan akan aman dan baik-baik saja. Adakalanya ditemukan tanaman yang mati secara mendadak karena adanya penyakit fusarium, atau ada beberapa organ tanaman yang rusak akibat serangan hama maupun penyakit pada tanaman tomat yang disebabkan oleh bakteri patogen, virus, maupun cendawan parasit. Penyulaman dilakukan dengan cara mengganti benih tanaman (pada lahan tanam bedengan) yang telah rusak, atau mati. Gantilah bibit baru dengan tanaman seusia dari tanaman yang telah mati tersebut. Maksimal waktu penyulaman adalah 15 - 20 hari sejak tanam awal. Benih tanam yang baru saja diganti (disulam), sebaiknya diberikan perlakuan khusus dengan pemberian pupuk organik dan frekuensi penyiraman teratur pagi dan sore hari.
  • Tahap Pendangiran dan Penyiangan: Pada tahapan penyiangan yakni mencabut rumput-rumput liar atau gulma yang telah tumbuh di sekitar pusat dimana tanaman itu tumbuh. Jika rumput liar tidak dicabut/dikoret, maka bisa dikhawatirkan akan mempenagruhi laju pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman, akibatnya produktivitas panen cenderung akan menurun. Sembari melakukan penyiangan, lakukan pula pendangiran (penggemburan tanah) di sekitar lahan tanam, pastikan tanah telah tersiangi dengan baik, termasuk proses pendangiran dilakukan secara benar.
  • Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman: Beberapa jenis hama yang sering menyerang tanaman rampai (tomat) diantaranya adalah hama wereng hijau, ulat grayak, ulat hijau, ulat bulu, ulat buah, kutu daun hijau, dan lainnya. Sementara itu, penyakit yang seringkali muncul dan mengindikasikan rusak dan matinya tanaman tomat diantaranya adalah busuk daun, layu fusarium, antraknosa (patek), bercak bakteri, penyakit keriting (mosaik) pada daun, virus kuning, dan lain sebagianya.

5. Kegiatan Panen dan Pemasaran

Berdasarkan pengalaman kami, buah rampai (tomat) dapat dipanen pada usia sekitar 1,5 bulan, dan pemanenan dapat dilakukan secara bertahap menyesuaikan kebutuhan masing-masing pekebun/petani yang bersangkutan.

Buah Tomat Rampai Organik Segar Yang Telah Dipanen
Buah Tomat Rampai Organik Segar Yang Telah Dipanen, Foto Original: guruilmuan

Panen rampai dilakukan dengan cara memetik buah rampai yang masih hijau tua, atau yang buahnya telah matang. Buah dipetik manual menggunakan tangan, lalu masukan buah tersebut pada ember besar atau keranjang (bakul) yang terbuat dari anyaman bilah-bilah bambu.

Buah rampai yang telah dipanen lalu diangkut dan dijual segera keesokan harinya. Biasanya harga buah rampai di pasaran cukup menjanjikan, sebab kebutuhan akan buah ini di tengah-tengah kehidupan masyarakat sangat dinanti-nantikan.

Dalam satu kilogram buah rampai selalu diberikan harga yang bervariasi, mengikuti kebijakan dari tiap-tiap daerah. Di pasar tradisional dan toko swalayan buah dan sayur organik di kota Bandarlampung misalnya, untuk harga satu kilogram buah rampai segar organik dijatuhkan harga setidaknya Rp. 7. 000,00,- hingga Rp.10.000,00,-. Tentu harga tersebut tidak selalu berlaku untuk daerah-daerah lain yang ada di Indonesia.

Demikian informasi seputar: "Ceritaku Berkebun Rampai (TOMAT) Tanpa Pupuk Anorganik Buahnya Sangat Lebat". Semoga apa yang telah disampaikan pada bagian di atas bermanfaat. Salam budidaya pertanian, ayo menanam dan ayo berkebun. Sukses untuk Anda semuanya.


Artikel Terpopuler

Ceritaku Berkebun TOMAT RAMPAI Tanpa Pupuk Anorganik, Buahnya Sangat Lebat
4/ 5
Oleh

Hallo Sobat Petani

Suka dengan Artikel di Atas? Silakan Berkomentar

4 komentar

October 27, 2015 at 2:18 PM Delete

Blognya bagus, kenapa gak dioptimasi gan? pasang GA lumayan untuk beli pulsa hehe

Reply
avatar
October 27, 2015 at 3:31 PM Delete

Terimakasih agan Loker Lampung atas kunjungan Anda ke blog saya. Suatu saat nanti blog ini akan saya monetisasi. Salam kenal gan, saya juga dari Lampung nih, masih tahap belajar ngeblog juga.

Reply
avatar
October 28, 2015 at 12:34 AM Delete

Ketemu blog beginian jadi pengen balik ke masa lalu, dulu aku hobi lho, mas. Baca2 buku tentang pertanian (terutama liat gambarnya yg bikin mata adem, hehehe)

Reply
avatar
October 28, 2015 at 7:16 AM Delete

Hehe, iya, emang gambar-gambar tanaman holtikultur (buah maupun sayur) yang dibuat artikel memang sangat mengesankan. Apalagi hasil jepretan photonya harus hati2, cari posisi yang bagus. Kalau mas Yasreel hobi baca buku pertanian, maka rencananya dari apa yang saya tulis di blog ini akan saya buatkan buku tentang pertanian. Sepertinya bisanya jadi tebal sampai 1.000 halaman kalau banyak artikel yang akan saya tulis. :D sedang proses ini mah mas, perlahan tapi pasti.

Reply
avatar