Cara Merawat Cabai dengan TIANG AJIR agar Buahnya Lebat

Cara perawatan cabai memang banyak sekali ragamnya, mulai dari penyiraman, pendangiran dan penyiangan, pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit, pengairan dan sampai pada pemberian tiang ajir.

Pemberian tiang ajir pada tanaman cabe memang sangatlah penting. Mengingat bahwa tiang ajir ini nantinya akan membantu tanaman cabe untuk tetap tegar, tidak mudah roboh dan berputus asa dari kondisi iklim yang ekstrem.

Para petani cabe di daerah pedesaan, umumnya mereka menggunakan tiang ajir, dan pada lahan bedengannya diberikan mulsa plastik untuk menjaga kelembaban tanahnya.

Tanaman Cabai Tumbuh Subur dengan Diberi Tiang Ajir. Photo Kontributor by: KPCI.


Ada beberapa manfaat pemberian tiang ajir diantaranya adalah agar tanaman cabe tidak mudah rebah/roboh, mempertahankan postur tanaman cabe agar tetap berada pada area tumbuhnya. Selain itu, adanya tiang ajir membuat tanaman tertopang, serta tiang ajir bisa dijadikan sandaran dan tempat tumbuhnya bunga dan buah cabe.

Cara pemberian tiang ajir yaitu dengan menancapkan bilah bambu yang dipotong-potong kecil berbentuk bilah dengan ujung runcing di dalam tanah dekat akar tanaman. Ukuran tiang ajir yang disarankan adalah 0,5 meter atau lebih sedikit. 1 tanaman diberi 1 tiang ajir. Dan dari tiap-tiap tiang ajir satu dengan lainnya dihubungkan dengan benang nilon warna putih.

Jika dalam pertanian cabe yang sedang anda budidayakan belum menggunakan tiang ajir, maka sudah saatnya kini menggunakannya. Dengan begitu saya menjamin tanaman cabe anda akan tumbuh baik, termasuk bunga dan buahnya lebat. Semoga bermanfaat. Pelajari juga artikel berikut ini: Jarak Tanam Cabw, Jagung, dan Kacang Tanah yang Harus Diperhatikan Oleh Petani.

Ayo Berbelanjalah di Toko Pertanian Guruilmuan (http://toko.tipspetani.com/)

Hallo teman-teman petani di seluruh Indonesia. Apa kabarnya?. Ada kabar gembira untuk teman-teman petani di Indonesia dan terkhususnya untuk rekan-rekan pembaca setia website guruilmuan.blogspot.co.id.

Pada postingan ini, saya Wahid Priyono sebagai pemilik sekaligus admin website guruilmuan menginformasikan kepada teman-teman petani semuanya bahwa saya sekarang sedang launching dan mencoba membuka toko online pertanian. Ini toko online saya, lihat di link >> http://toko.tipspetani.com/.

Toko Pertanian Indonesia Resmi Milik Wahid Priyono (Admin Website Guruilmuan.blogspot.co.id dan Tipspetani.com).


Dalam toko online pertanian saya tersebut ke depannya saya akan mencoba untuk menjual berbagai keperluan pertanian secara lengkap seperti:

  • Pupuk organik dan pupuk anorganik;
  • Bibit Tanaman dari Biji;
  • Bibit Tanaman cangkok;
  • Alat pendangiran dan penyiangan;
  • Perlengkapan dan Alat-alat pertanian;
  • Tempat makan dan minum hewan;
  • Berbagai hewan hias (hewan peliharaan);
  • Hormon pertumbuhan tanaman (fitohormon sintetik);
  • Jual tanaman budidaya/hortikultur;
  • Jual tanaman perkebunan/sayur/buah;
  • dan lain sebagainya.
Semua perlengkapan dan keperluan pertanian di atas akan selalu diupdate di website toko pertanian saya di link berikut: Toko Pertanian Indonesia. Pastikan untuk selalu update info produk pertanian terbaru dari saya.

Selamat berbelanja teman-teman. Jika teman-teman petani ingin berbelanja, kerjasama dengan saya atau ada yang ingin ditanyakan bisa hubungi saya via WA/HP di: 081272625203. Terimakasih.

Jarak Tanam Cabe, Jagung, dan Kacang Tanah yang Harus Diperhatikan Oleh Petani di Indonesia

Jarak tanam cabe, jagung, dan kacang tanah yang baik dan benar sering dijadikan indikator sukses tidaknya dalam budidaya tanaman tersebut. Para petani cabe, kacang dan jagung di Indonesia sangat percaya bahwa jarak tanam menentukan tingkat produktivitas hasil panen. Dan oleh sebab itulah, kunci dari sukses budidaya tanaman budidaya salah satunya adalah jarak tanam.

Jarak Tanam Cabai yang Ideal adalah 50 cm x 50 cm (12.000 tanaman/ha)
Jarak Tanam Cabai yang Ideal adalah 50 cm x 50 cm (12.000 tanaman/ha), Photo Kontributor Oleh: KPCI Indonesia.


Setiap petani cabe, jagung maupun kacang tanah pasti mempunyai pengalaman tanam yang berbeda-beda. Terkadang, antar satu petani dengan petani lainnya mempunyai perbedaan dari jarak tanam cabe yang mereka terapkan di lapangan. Perbedaan ini sebagai bukti bahwa dari hasil ekperimen petani pasti memiliki indikator berbeda untuk memilih mana jarak tanam yang cocok dan bagus dalam menanam cabe.

Hasil penelitian tentang jarak tanam cabe yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah oleh Efendi dkk (dalam balittas.litbang.pertanian.go.id) menyebutkan bahwa adapun jarak tanam jagung 75 cm x 20 cm (20.000 tanaman/ha), jarak tanam cabai yang ideal adalah 50 cm x 50 cm (12.000 tanaman/ha), dan kacang tanah 40 cm x 20 cm (50.000 tanaman/ha).

Dalam usaha polikultur, jarak tanam yang dianjurkan untuk jagung adalah 2 m x 2 m. Jarak tanam ini masih dapat disisipi dengan tanaman semusim sebagai tanaman sela. Namun dengan jarak tanam yang demikian hanya akan baik untuk tanaman pokok maupun untuk tanaman selanya sampai tahun ke-2, selanjutnya akan terjadi persaingan yang dapat menggagalkan panen baik pada tanaman pokok maupun pada tanaman selanya, sehingga perlu dirancang secara cermat.

Sumber Referensi:

Efendi, Dedi Soleh, Taher dan Rumini. Pengaruh Tumpang Sari dan Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanam Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor. [JURNAL]. Diakses pada situs balittas.litbang.pertanian.go.id/images/pdf/jp3232.pdf, 
pada hari Minggu, 20 Agustus 2017, pkl. 09.30 WIB,

5 Cara Menangani GULMA Pada Lahan Bedengan Agar Tanah Tidak Tandus

Gulma memang tergolong jenis tanaman liar yang keberadaannya sangat mengganggu pertumbuhan tanaman jenis lain. Gulma kebanyakan bersifat parasit. Sebagian besar petani telah mengamati bahwa lahan bedengan yang banyak ditumbuhi gulma tentu saja unsur hara semakin berkurang. Hal ini tentu saja akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang tumbuh di lahan tersebut.

Selain terlibat dalam perebutan nutrisi/unsur hara dalam tanah, ternyata keberadaan gulma juga mampu membuat tanah di areal lahan bedengan menjadi lebih tandus, krisis garam-garam mineral dan air, aerasi tanah menjadi buruk sebab masuknya Oksigen ke dalam tanah tidak berjalan baik.

Tanah Bedengan Menggunakan Mulsa Pada Budidaya Cabe
Tanah Bedengan Terbebas Gulma Menggunakan Mulsa Pada Budidaya Cabe. Photo Kontributor by: KPCI.

Berikut ini langkah/cara/metode sederhana yang sering diterapkan petani di Indonesia untuk mencegah/mengatasi/menangani gulma pada lahan bedengan agar tanah tidak tandus:

  • Selalu memastikan bahwa, setiap musim tanam untuk gulma (rumput liar) yang tumbuh di areal bedengan agar selalu dibersihkan. Caranya adalah dengan melakukan pengoretan/penyiangan gulma menggunakan pencong/alat penyiangan khusus yang banyak dijual di toko-toko pertanian. Dengan cara ini memang terbukti ampuh untuk mencegah gulma sejak dini;
  • Pastikan memantau setiap periode tanam terkait dengan keberagaman gulma yang tumbuh di areal bedengan. Dengan begitu anda telah mengetahui jenis gulma, cara penanganan yang tepat. Umumnya, jenis gulma akan turun-temurun tumbuh di lahan bedengan yang sama untuk puluhan tahun. Sebagai contoh: Pada lahan bedengan cabai sering ditemui gulma jenis krokot yang berbatang basah. Gulma krokot tersebut akan tumbuh kembali pada masa yang akan datang (musim tanam berikutnya);
  • Lakukan penyiangan sekaligus pendangiran pada lahan bedengan adalah cara tepat untuk mencegah tumbuhnya gulma dalam jumlah besar serta mencegah lahan bedengan agar tanahnya tidak tandus. Penyiangan dilakukan dengan membuang rumput liar yang tumbuh. Sebab, jika tidak dibuang maka akan menghambat pertumbuhan tanaman budidaya/hortikultur, terjadi perebutan nutrisi hara antara tanaman gulma dengan tanaman budidaya. Selain itu, adanya gulma menjadi vektor penyakit dan munculnya keberagaman hama serta penyakit pada tanaman. Larva hama biasanya akan singgah/bersarang dan menggantung pada dedaunan atau ranting pohon tanaman budidaya. Lakukan penyiangan juga sambil melakukan pendangiran. Pendangiran yaitu dengan cara menggemburkan tanah bedengan di sekitar pusat tumbuh tanaman. Pendangiran juga dilakukan sembari secara teliti melihat apakah ada bonggol akar gulma. Jika ditemukan bonggol/sisa akar gulma dari penyiangan tadi, maka segera ambil sebab jika tidak diambil bonggol akar gulma tersebut akan bertunas dan tumbuh menjadi gulma baru. Pendangiran dan penyiangan sangat penting, selain membuang gulma juga membuat agar tanah pada lahan bedengan tidak tandus, dan tentunya tanah semakin gembur, penyerapan unsur hara/garam-garam mineral dan air oleh akar tanaman semakin efektif, aerasi tanah semakin bagus dan pada akhirnya tanaman budidaya akan tumbuh secara optimal;
  • Pemberian kapur dolomit pada waktu pengolahan tanah/lahan bedengan adalah langkah tepat untuk mencegah dan cara menangani gulma pada lahan bedengan agar tanah tidak tandus. Kapur dolomit mampu mengubah sifat asam pada tanah menjadi lebih basa atau sedikit netral. Sebab, gulma lebih suka tumbuh pada keadaan tanah dengan pH asam. Dengan menggunakan kapur dolomit maka tanah bedengan anda akan semakin basa/netral sehingga gulma kurang menyukai keadaan tanah yang basa/netral;
  • Jika gulma menyerang dalam jumlah yang masif/banyak, maka sebaiknya langkah terakhir yaitu menggunakan herbisida. Herbisida berfungsi untuk membunuh rumput-rumput liar pengganggu tanaman budidaya. Herbisida banyak dijual di pasaran dalam bentuk kemasan botol. Harganya bervariasi. Dan saat pemakaiannya sebaiknya gunakan sesuai dosis pakai per jenis gulmanya. 
Dari kelima point di atas semoga bisa menambah wawasan rekan-rekan petani di Indonesia. Itulah tadi informasi tentang 5 cara menangani gulma pada lahan bedengan agar tanah tidak tandus. Semoga bermanfaat.