Gulma Pada Tanaman Cabe Serta Cara Pencegahannya

Gulma seringkali menyerang tanaman cabe. Sifat gulma yang parasit ini bisa membuat tanaman menjadi kurus, pertumbuhannya terhambat, dan terkadang buah cabe berkembang tidak optimal.

Adapun jenis gulma yang paling umum menyerang tanaman cabe adalah meniran, ilalang, rumput teki, krokot.

Perebutan (kompetisi) antara tanaman cabe dengan gulma seringkali menjadi faktor yang menyebabkan tanaman cabe menjadi kurus. Selain itu, tanah menjadi kurang subur dan bisa habis unsur haranya karena setiap saat dimanfaatkan gulma untuk keberlangsungan hidupnya.

Gulma pada tanaman cabe
Lahan Bedengan Cabe Bersih Terbebas dari Gulma, Photo Kontributor: KPCI Indonesia.

Cara yang paling efektif untuk mencegah pertumbuhan gulma yang sangat banyak pada tanaman cabe diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Menjaga kebersihan lahan tanam cabe, dengan memastikan bahwa gulma tidak ada;
  • Mengoret gulma jika di lahan tanam cabe ditemukan adanya pertumbuhan gulma yang tidak terkendali;
  • Membakar guma bersamaan dengan tepung sarinya;
  • Mengatur kelembaban air pada lahan bedengan, yakni dengan cara menggunakan mulsa plastik;
  • Mengatur drainase air di setiap lahan bedengan;
  • Cabut gulma secara berkala sejak tanaman mulai memasuki masa tanam di lahan bedengan;
  • Cabut/koret gulma sampai pada bagian akarnya. Bersihkan gulma secara tuntas, jangan sampai menyisahkan stolon, akar, atau rimpang sebab bisa jadi akan tumbuh lagi;
  • Jika gulma yang tumbuh sangat banyak serta sulit penanggulangannya, maka bisa menggunakan herbisida.
Itulah tadi penjelasan singkat tentang cara pencegahan gulma pada tanaman cabe yang baik dan benar. Semoga bermanfaat. Silakan baca juga: 

6 Cara Mencegah dan Membersihkan Gulma Pada Labu, Terong, Cabe, Tomat, Mentimun.

Terkadang, petani seringkali mengamati tumbuhnya gulma (rumput liar) di dekat tanaman yang mereka budidaya. Namun, tidak banyak dari petani tersebut yang hendak langsung membersihkan gulma, walau jumlahnya masih sedikit. Sebab, jika tidak dibuang/dibersihkan, maka gulma bisa menjadi sarang bagi hama dan penyakit untuk berkembang. Gulma adalah parasit bagi tanaman budidaya, sebab alasan pertama yang dapat masuk akal adalah gulma bisa menjadi kompetitor bagi tanaman budidaya.

Pengalaman-pengalaman para petani di daerah sering menyiratkan tentang sulitnya penanganan gulma di sawah maupun di ladang, area perkebunan yang memang terkhusus ditanami jenis tanaman pangan seperti jagung, kedelai, dan tanaman kacang-kacangan lainnya. Dan jenis gulma pada jagung, kedelai, dan tanaman kacang-kacangan umumnya jenis gulma berkayu keras, seperti ilalang terkadang sulit dicabut, dan kalaupun berhasil dicabut, terkadang akar gulma masih tertinggal di dalam tanah.

Tanaman Labu Berbuah Lebat, Bebas dari Gulma
Tanaman Labu Berbuah Lebat, Bebas dari Gulma. Photo Original by: Wahid Priyono & Ragil Alsabah Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB).

Lain halnya pada tanaman sayur dan buah, seperti pada tanaman labu, terong, cabe, tomat, dan mentimun. Umumnya, tanaman tersebut ditanam di lahan perkebunan terbuka atau di areal persawahan yang tercukupi dengan kandungan air dari saluran irigasi. Jenis gulma yang sering menyerang pada tanaman terong, cabe, tomat, dan mentimun umumnya gulma dengan batang berair seperti krokot, meniran, dan jarang dijumpai adanya gulma ilalang yang terkadang meninggalkan stolon yang bisa tumbuh kembali.

Curah hujan yang cukup tinggi bisa menjadi penyebab munculnya gulma dalam skala besar-besaran. Hal ini perlu mendapatkan perhatian dari petani untuk melakukan penyiangan dini sambil tetap mengamati pertumbuhan dan perkembangan tanamannya. Air hujan bisa menyebabkan spora atau tepung sari gulma berkecambah lebih cepat, karena mudahnya air terserap pada sel-sel biji. Sehingga sangat wajar jika musim hujan tanaman terong, cabe, tomat, dan mentimun seringkali lahan bedengannya ditumbuhi gulma.

Ada beberapa kiat/cara/langkah-langkah untuk mencegah dan membersihkan gulma pada tanaman labu, terong, cabe, tomat, dan mentimun seperti:

  • Selalu menggunakan mulsa plastik saat membudidaya tanaman hortikultura buah mapun sayuran. Mulsa plastik mencegah pertumbuhan gulma, sehingga akan lebih memudahkan petani saat perawatan tanaman;
  • Buatlah bedengan dengan tinggi di atas 30 cm, hal ini untuk mencegah supaya spora/tepung sari gulma tidak mudah dibawa oleh serangga. Jika terkena air, maka tepung sari akan berkecambah dan tumbuh menjadi tanaman gulma dewasa yang sifatnya parasit pada tanaman pertanian;
  • Perhatikan kelembaban lahan bedengan. Lahan bedengan sebaiknya tidak terlalu basah/lembab, sebab dapat memicu munculnya gulma. Atur ketinggian air tidak lebih dari 1/3 tinggi bedengan;
  • Lakukan penyiangan pada gulma dengan cara mengoret gulma secara tuntas sampai pada akarnya. Jika tidak, maka akarnya tertinggal dan akan muncul tunas baru. Gunakan pencong/alat penyiangan lainnya yang relevan;
  • Jika gulma sudah dikoret atau dibersihkan, silakan bisa langsung dibakar atau dikumpulkan terlebih dahulu pada bak khusus untuk menampung gulma. Bak bisa berbentuk persegi dari tanah galian di sekitar lokasi pembudidaya tanaman pertanian tersebut;
  • Jika gulma tumbuh banyak pada lahan bedengan dan sulit mengendalikannya, maka bisa terpaksa menggunakan herbisida untuk memberantasnya;
Itulah tadi penjelasan tentang 5 cara mencegah dan membersihkan gulma pada tanaman terong, cabe, tomat, dan mentimun. Semoga bermafaat untuk anda. Silakan baca juga: Pupuk Cabe Merah yang Bagus dan Berkualitas Tinggi (High Quality).

[VIDEO] Tanaman Padi IPB 3S Saya Terserang Hama Wereng Hijau

Pasca lebaran 1438 H, saya kembali berkunjung ke sawah untuk melihat-lihat tanaman padi IPB 3S yang sudah saya tanam selama kurang lebih 1,2 bulan. Memang tanaman padi IPB saya juga sama seperti kacang panjang saya sejak bulan Ramadhan tidak mendapat perawatan yang cukup intensif dan alhasil hama jenis wereng hijau dan walang sangit cukup lumayan banyak menyerang tanaman padi saya tersebut.

Saya sudah beberapa kali sebelumnya melakukan penanggulangan hama wereng tersebut menggunakan larutan autan/soffel dan disemprotkan pada tanaman padi dan memang terbukti ampuh. Saya sudah berkali-kali menggunakan autan sebagai pestisida untuk membunuh hama dan memang cukup berhasil, tapi tidak membunuh hama secara keseluruhan. Paling-paling hama mati 70% saja, sisanya masih ada.

Kali ini saya melakukan penyemprotan tanaman padi IPB 3S saya dengan menggunakan pestisida jenis untuk mengusir hama yang tersisa tersebut, dan memang berdasarkan pengalaman saya sebelumnya cukup ampuh menggunakan jenis pestisida tersebut dalam menanggulangi perkembangan hama di sekitar lokasi tanam padi.

Saya akan melihat ke depannya, apakah hasil perlakuan saya ini berhasil, atau justru sebaliknya hama wereng berdatangan lagi. Berikut ini video wereng hijau yang menyerang tanaman padi IPB 3S yang saya budidaya, dan memang tetap saja tanaman padi saya daunnya berwarna hijau bersih, karena sebagian hama wereng sudah mati karena saya semprotkan larutan autan/soffel.


Fase Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman (4 Fase Lengkap)

Setiap tumbuhan pasti memiliki fase hidup, yakni mulai tanaman itu menghasilkan biji dan berkecambah sampai tanaman itu tua lalu mati. Fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman/tumbuhan ada 4 fase lengkap yakni fase embrionis/fase lembaga, fase juvenil/perkecambahan biji, fase produksi, dan fase penuaan (senil).

Fase pertumbuhan tanaman selalu diikuti dengan fase perkembangan tanaman. Fase pertumbuhan adalah suatu fase penting sebab terjadi pembelahan sel-sel meristematik secara terus-menerus hingga mencapai tingkat kedewasaan.

Fase Perkecambahan Biji Pada Tanaman Melon
Fase Perkecambahan Biji Pada Tanaman Semangka. Photo Original by: http://tipspetani.com/

Berikut ini penjelasan tentang 4 fase/langkah-langkah/tahapan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan secara terperinci:

1. Fase Embrionik

Pada fase embrionik ini terjadi sejak penyerbukan bunga yang mana adanya penggabungan inti sel ovum dan serbuk sari dan kemudian akan menghasilkan bakal buah dan bakal biji. Biji inilah yang merupakan alat perkembangbiakan secara generatif pada tanaman.


2. Fase Juvenil/Perkecambahan Biji

Pada fase juvenil atau ahli fisiologi tanaman menyebutnya fase perkecambahan biji ini merupakan fase dimana biji telah mengalami proses perkecambahan akibat masuknya air ke dalam sel-sel biji secara imbibisi. Pada masa perkecambahan biji ini akan muncul plumula yaitu bagian organ tanaman yang siap tumbuh dan berkembang, yakni organ akar (radikula), daun, dan ujung batang/tunas muda.


3. Fase Produksi

Pada fase produksi ini artinya tumbuhan telah memiliki organ tanaman lengkap, terutama organ bunganya sudah mampu menghasilkan bakal buah. Buah yang sudah terbentuk merupakan bagian penting pada tumbuhan yang juga menghasilkan biji sebagai alat perkembangbiakan secara generatif.


4. Fase Penuaan (Senil)

Fase penuaan disebut juga fase senil. Pada fase ini tanaman sudah tidak mampu lagi menghasilkan organ tanaman baru, atau biasanya ditandai dengan buah yang semakin kecil, organ tanaman kurus dan berakhir pada kematian tanaman. Karena fase senil adalah fase puncak pertumbuhan tanaman, maka pada akhirnya tanaman akan mati dan digantikan dengan tanaman lainnya dari proses perkecambahan biji.

Cara Mengetahui Buah Cabe Rawit dan Cabe Merah Siap Panen dan Cara Pemanenannya

Cara pemanenan cabe rawit maupun cabe merah agar memperoleh hasil terbaik, maka perlu sekali mengetahui waktu panen, sebaiknya panen dilakukan waktu pagi hari sekitar pukul 07.00 s.d 10.00 waktu setempat. Atau pemanenan cabe dilakukan pada waktu sore hari ketika cahaya matahari tidak terlalu panas. Akan tetapi, untuk pemanenan cabe di pakarangan rumah dilakukan secara kondisional saja, tidak ada waktu yang pastinya, sesuai keperluan saja.

Waktu pemanenan cabe juga tergantung dari lamanya tanaman terkena sinar matahari, semakin lama tanaman terkena sinar matahari maka akan semakin cepat pula waktu panennya. Demikian juga lamanya waktu penghujan dapat memperlambat waktu panen tiba. Pada umumnya waktu panen rata-ratanya setelah tanaman cabe rawit/merah berumur 2,5 s.d 3 bulan sejak tanam awal/sesudah disemai.

Untuk panen berikutnya bisa dilakukan 1 - 2 Minggu tergantung dari sisi kesehatan dan tingkat kesuburan tanaman. Sebenarnya, tanaman cabai rawit/cabe merah bila dirawat secara benar bisa mencapai umur 1 - 1,5 tahun, jika dilakukan pemupukan dan pemangkasan kembali setelah tanaman dipanen. (Baca juga: Cara Pemetikan Buah Cabe yang Baik dan Benar Sesuai Anjuran).

Tanaman Cabe Merah Berbuah Lebat Siap Dipetik
Tanaman Cabe Merah Berbuah Lebat Siap Dipetik. Photo Original by: Wahid Priyono (Guruilmuan Indonesia).

Pemupukan kembali dapat memberikan pupuk organik seperti pupuk kandang/kompos maupun pupuk kandang yang sudah menjadi tanah atau sudah difermentasikan.

Adapun cara mengetahui buah cabe rawit dan cabe merah siap dipanen yakni sebagai berikut:

  • Sebaiknya pemanenan dilakukan pada buah cabe yang tingkat kematangannya sudah mencapai antara 70 - 100%. Pemetikan buah cabe juga bisa melihat kondisi keadaan, mempertimbangkan  waktu tempuh cabe yang akan didistribusikan ke pasaran. Pemetikan buah cabe juga terkadang bisa dilakukan saat buah tidak terlalu masak (sudah tua). Jika terlalu masak, terkadang ada saja buah cabe yang busuk ketika atau pasca distribusi dilakukan;
  • Dilakukan waktu pagi hari setelah embunnya mengering akibat serpihan sinar matahari. Sortasi/pemilihan sekaligus langsung di lahan, pisahkan buah yang busuk sebagian, rusak, cacat, atau bekas serangan Organisme Penggangu Tanaman (OPT). Untuk panen kedua dan seterusnya dilakukan setiap 2-3 hari sekali, menyesuaikan kebutuhan;
  • Alat panen yang dipergunakan umumnya menggunakan pisau tajam atau gunting kecil untuk memotong tanaman cabe rawit/cabe merah. Pemetikan buah cabe yang salah akan merusak pada bagian organ tanaman lainnya seperti organ bunga, terutama saat pemetikan dilakukan manual menggunakan tangan secara dicabut asal-asalan;
  • Sebagai wadah hasil panen bisa menggunakan keranjang dari anyaman bambu, anyaman rotan, atau bahkan bisa menggunakan karung jala yang terlebih dahulu diberikan alas dan diletakkan pada tempat yang teduh.

Produksi Panen Cabe Rawit Per Pohon yang Sering Dialami Petani di Indonesia

Pemanenan cabe merupakan hal yang dinanti-nantikan oleh para petani cabe. Dan sebenarnya tidak ada ukuran pasti berapa kg hasil panen cabe tiap pohonnya, sebab setiap tanaman cabe yang dibudidaya petani mempunyai karakteristik, asal bibitnya, serta perawatan yang berbeda-beda, pastinya hasil produktivitas panennya pasti akan berbeda pula.

Tanaman Cabe Rawit Jengki Berbuah Lebat
Tanaman Cabe Rawit Jengki Berbuah Lebat. Photo Original by: Wahid Priyono (Guruilmuan Indonesia).

Namun, setidaknya apa yang akan dijelaskan di bawah ini adalah gambaran secara umum tentang panen cabe rawit per pohon dengan perawatan tanaman yang sudah baik, dan ini berdasarkan pengalaman saya langsung yang juga pernah menanam cabe rawit di lahan persawahan dan memang cukup bagus apabila tanaman cabe rawit ditanam di lahan persawahan yang mempunyai jenis tanah liat lempung berpasir.

Dilansir dari situs website http://tipspetani.com/1-pohon-cabe-menghasilkan-berapa-banyak-buah-sekali-panen/, bahwa 1 pohon cabe rawit bisa menghasilkan 10 - 12 kg per 8 kali petik, dan jumlah ini bisa lebih jika pemetikan dilakukan lebih dari 8 kali. Dan sebaik-baik tanaman cabe yang mampu memproduksi buah dalam jumlah besar tentu saja dilandasi dengan proses perawatan tanaman secara baik dan benar.

Pupuk Cabe Merah yang Bagus dan Berkualitas Tinggi (High Quality) Sering Dipakai Petani

Pupuk cabe merah yang bagus dan berkualitas tinggi memang menjadi pilihan terbaik yang diharapkan setiap para petani. Pupuk yang bagus tentu saja akan mampu mempercapat tanaman untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu memproduksi buah cabe merah dalam jumlah yang melimpah.

Banyak sekali jenis pupuk yang dipakai petani cabe untuk merawat tanamannya agar tetap sehat, subur serta tumbuh dan berkembang dengan baik, dan kali ini akan dijelaskan pupuk cabe merah yang bagus dan berkualitas tinggi (high quality) sering dipakai petani.

1. Pupuk Kandang (Pupuk Organik)

Pupuk kandang (pupuk organik) adalah jenis pupuk yang bisa dicampurkan langsung dengan tanah pada saat pengolahan tanah bedengan. Pupuk kandang yang bagus untuk tanaman cabe merah yaitu pupuk kotoran ayam, kambing, sapi, kerbau, pupuk itik, dan jenis pupuk lainnya. Namun, banyak para petani cabe lebih sering dan menyukai pakai pupuk kandang dari kotoran ayam karena dilihat dari kandungan unsur Mg, N, Ca, K, cukup tinggi dan mampu meningkatkan laju pertumbuhan tanaman cabe merah secara signifikan.

Tanaman Cabe Merah Dalam Proses Perkembangannya
Tanaman Cabe Merah Dalam Proses Perkembangannya. Photo Original by: Wahid Priyono (Guruilmuan).

Pupuk kandang diberikan untuk tanaman cabe umur di atas 1 bulan ke atas dengan pemberian sekitar 3 kali sampai nanti panen (setiap 2 minggu sekali dimulai sejak satu bulan pertama sejak tanam awal), pada saat perawatan tanaman lainnya seperti pendangiran, penyiangan, penyiraman, dan lainnya.

2. Pupuk NPK Mutiara

Pupuk NPK mutiara yaitu jenis pupuk yang disukai petani dan paling disukai petani. Pupuk NPK mutiara ini sangat penting dipakai untuk membudidaya cabai, sebab banyak sekali manfaat yang diperoleh seperti tanaman subur, dan bahkan bisa berbuah lebat. Kebanyakan para petani menggunakan pupuk NPK mutiara ini dalam bentuk padat yang langsung disebar di sekitar pusat tanaman tumbuh, atau bisa dengan cara mengocor pupuk NPK mutiara.

Pupuk NPK mutiara bagus untuk semua varietas cabe termasuk cabe rawit, cabe merah dan lain sebagainya. Dan pemberian pupuk NPK mutiara ini bisa di umur cabe 1 minggu atau setelah umur cabe 1 bulan.

3. Pupuk NPK Phonska

Biasanya para petani cabe memberikan larutan pupuk phonska cair untuk tanaman cabenya supaya tumbuh dan berkembang dengan baik, berbuah lebat, serta pupuk NPK phonska ini sebaiknya diberikan pada saat tanaman cabai menginjak waktu pembungaan tanaman. Cara pembuatannya bisa ikuti tutorial/cara berikut ini: Cara Pembuatan Larutan Pupuk Phonska Cair untuk Tanaman Cabai.

Masa Panen Cabe Merah (Frekuensi Panennya)

Pengetahuan seorang petani tentang masa panen cabe merah ditinjau dari frekuensi panennya memang sangat penting. Hal ini tentu saja memberi wawasan terbaru bagi para petani secara teori, akan tetapi dalam prakteknya tidak selalu tepat. Ini pastinya dipengaruhi oleh keadaan geografi suatu wilayah, curah hujan, tingkat keasaman tanahnya (pH tanah), kelembaban udara, jenis tanah, dan faktor perawatan tanaman cabe juga berperan dalam menentukan masa panen cabe merah atau cabe sejenisnya secara lama.

Cabe Merah Besar Berbuah Lebat
Cabe Merah Besar Berbuah Lebat. Photo Original Oleh: Wahid Priyono (Guruilmuan).

Namun, secara umum, tanaman cabe merah memiliki masa panen mencapai 30 sampai dengan 40 kali dalam masa hidupnya, dengan produksi buah tiap tanaman bisa lebih dari 3 kg. Secara fisiologisnya, sejak tanaman cabe merah ini mulai tanam sampai dengan panen kira-kira bisa mencapai umur 3 - 4,5 bulan. Pada umur ini memang tanaman cabe sedang bagus-bagusnya memproduksi buah cabe dalam jumlah melimpah, dan lagi-lagi banyak sedikitnya hasil panen cabe juga ditentukan oleh cara perawatan tanaman cabe yang dilakukan petani.

Faktor pemupukan tanaman cabe juga menjadi alat tempur untuk hasil panen lebih bagus, sebaiknya saat tanaman cabai mulai berbunga sebaiknya berikan larutan pupuk phonska cair. Larutan pupuk phonska cair ini bisa memperlama umur tanaman cabe.

Namun, sebagai petani anda hanya bisa berusaha dan selebihnya ketentuan Allah yang akan berlaku. Selamat belajar bertani, semoga sukses selalu. Pelajari juga: Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Cabe (Faktor Eksternal dan Internal).

Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Cabe (Faktor Eksternal dan Internal)

Pertumbuhan tanaman cabe selalu diiringi dengan proses perkembangan yang terjadi pada tanaman seperti terbentuknya daun, akar, batang, serta organ bunga yang merupakan bagian dari organ reproduktif untuk menghasilkan buah. Ternyata dalam pertumbuhan dan perkembangannya, ada faktor yang mempengaruhi pertumbuhan cabe (faktor eksternal dan internal).

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari lingkungan, sementara itu faktor internal adalah faktor yang memicu terjadinya pertumbuhan cabai berasal dari dalam tumbuhan itu sendiri.

Berikut ini akan dijelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabe, baik itu faktor secara internal maupun secara ekternal:

1. Faktor Internal

Faktor internal berasal dari dalam tumbuhan itu sendiri. Beberapa faktor internal yang ikut berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai diantaranya yaitu:

  • Enzim, merupakan biokatalisator yang mampu membantu dalam proses metabolisme tumbuhan. Metabolisme tumbuhan meliputi proses katabolisme (untuk menghasilkan energi melalui proses pemecahan 6 atom C/glukosa menjadi 2 asam piruvat dan ATP, seterusnya prosesnya berlangsung melalui tahapan dekarboksilasi oksidatif, siklus kreb, sampai pada proses transpor elektron dan menghasilkan 36 ATP bersih respirasi aerob). Sementara itu, enzim juga dipakai tumbuhan untuk proses anabolisme (fotosintesis) untuk menghasilkan makanan (nutrisi) yang akan dipakai oleh tumbuhan untuk meningkatkan laju pertumbuhan dan perkembangannya;
  • Hormon (fitohormon = hormon tumbuhan), merupakan substansi kimiawi yang berperan penting dalam menentukan pertumbuhan perkembangan tanaman. Dikenal berbagai macam jenis fitohormon seperti auksin, giberelin, sitokinin, asam absisat, etilen, dan lain sebagainya. Sebagai contoh hormon giberelin berperan penting untuk proses perkecambahan biji, pembelahan sel-sel meristematik pada tanaman muda yang baru selesai berkecambah untuk terus tumbuh menjadi tanaman dewasa.
Tanaman Cabai Bibit dengan Pertumbuhan Maksimal
Tanaman Cabai Bibit dengan Pertumbuhan Maksimal. Photo Original by: Wahid Priyono (Guruilmuan).


2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal pada tumbuhan lebih cenderung berkaitan erat dengan fakor lingkungan sekitar seperti kelembaban, suhu, pH tanah, cahaya matahari, jumlah kandungan air tanah, dan lain sebagainya.

Suhu yang tinggi juga tidak bagus untuk pertumbuhan tanaman karena enzim pada tumbuhan akan mudah rusak dan gugus protein pada enzimnya akan mengalami denaturasi (struktur proteinnya rusak). pH tanah juga harus bagus tidak terlalu asam dan beberapa tanaman cabe dapat tumbuh pada pH yang cukup netral (pH =7).

Cahaya matahari merupakan faktor penghambat pertumbuhan pada tanaman. Pertumbuhan tanaman cabe dapat terhambat dengan intensitas cahaya matahari yang cukup. Penghambatan ini meliputi membuat batang tanaman lebih proporsional, batangnya tebal, batang serta akarnya kuat, dan daun dengan warna yang hijau cerah. Sementara jika tanaman kekurangan cahaya, atau ditanam pada tempat yang lebih gelap, maka pertumbuhan tanaman cabai tersebut akan mengalami percepatan tumbuh dan mengalami gejala etiolasi dengan ciri-ciri daunnya pucat, akar serta batangnya tinggi dan kurus-kurus.

Jumlah kandungan air juga ada kaitannya dengan kelembaban tanah, oleh karena itulah untuk menunjang pertumbuhan tanaman cabai yang optimal maka kelembaban tanahnya harus dijaga dengan frekuensi penyiraman tanaman cabai yang cukup. Gunakanlah dosis penyiraman tanaman cabe sesuai umurnya, tidak kurang dna juga tidak berlebihan agar memperoleh hasil pertumbuhan cabe yang lebih maksimal. Baca juga referensi bertani lainnya: 1,2,3,4 Fase Pertumbuhan Tanaman Cabai.