Cara Budidaya WALUH Organik dari Biji Agar Berbuah Lebat dan Menguntungkan Bagi Petani

Siapa yang tidak mengenal buah waluh?. Waluh kuning merupakan tanaman buah yang telah banyak dibudidaya oleh masyarakat petani di berbagai penjuru Asia, termasuk daerah-daerah di Indonesia adalah sentra stategis untuk memperbanyak tanaman ini. Waluh kuning atau labu kuning dengan nama ilmiah Cucurbita moschata Durch merupakan tanaman berasal dari suku cucurbitaceae layaknya seperti buah mentimun, gambas/oyong, pare belut, pare pahit, labuh, semangka, karena mempunyai sulur dan batang tanamannya tumbuh secara merambat pada batang tanaman atau merunduk ke permukaan lantai tanah.

Waluh dikembangbiakan oleh petani maupun pekebun dengan cara generatif artinya menggunakan biji yang dikecambahkan di dalam tanah. Karena bagaimanapun juga cara generatif inilah satu-satunya cara paling efektif untuk memperoleh tanaman yang sehat. Di daerah-daerah perkebunan tanaman holtikultur, terkadang banyak sekali lahan yang ditanami berbagai jenis tanaman buah maupun sayur. Adakalanya waluh adalah salah satu jenis tanaman buah yang ditanam pada lahan tersebut. Waluh juga dapat ditanam di daerah tegalan, lahan miring pegunungan, pematang sawah, atau dibudidaya di halaman rumah.

Karena negara Indonesia beriklim tropis, maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman waluh ini akan jauh lebih baik asalkan curah hujan mencukupi sepanjang tahun. Cara budidaya waluh organik dari biji saat ini sedang populer karena secara nyata menghasilkan buah lebat dan menguntungkan bagi petani.

Buah walu oleh masyarakat luas banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku kuliner dalam pembuatan sup, sayur waluh santan, sayur walo tumis, dan juga dimanfaatkan untuk bahan baku dalam pembuatan kue-kue seperti kue bolu, kue tar, kue lapis, pembuatan bubur waluh, getuk walo, dan dodol. Karena kebermanfaatannya yang beragam inilah, maka tak ada salahnya jika Anda melakukan cara budidaya waluh secara organik dari biji agar berbuah lebat dan menguntungkan bagi petani.

Syarat Tumbuh Tanaman Waluh

Tanaman Waluh Sedang Berbuah
Tanaman Waluh Sedang Berbuah. Foto Original Oleh: guruilmuan.blogspot.com
Tanaman waluh dapat tumbuh baik pada lahan terbuka baik di pekarangan rumah, ladang/kebun, area persawahan, maupun di daerah-daerah dataran rendah maupun di dataran tinggi dari ketinggian lahan 800 - 1.200 meter di bawah permukaan air laut (mdpl). Jenis tanah yang paling baik bagi pertumbuhan tanaman ini adalah tanah jenis aluvial berhumus, tanah gambur kering bekas rawa-rawa, tanah merah, andosol, grumosol. Tanah pun sebisa mungkin diberikan aerasi untuk memperkaya kadar Oksigen yang baik agar laju pertumbuhan dan perkembangan tanaman berjalan baik. Tingkat keasamaan tanah (pH) yang ideal adalah 5,0 - 6,5, dengan tingkat kelembaban udara 75%. Curah hujan dan ketercukupan air di dalam tanah menjadi hal mutlak yang tentunya akan berpengaruh terhadap pembungaan dan pembentukan buah waluh secara sempurna. Curah hujan yang diharapkan yaitu 700 - 1.000 mm/tahun, serta ketercukupan cahaya matahari adalah faktor luar (eksternal) yang penting dalam membantu proses pembuatan makanan di daun.

Mengenal Karakterisik Umum Tanaman Waluh

Tanaman waluh mempunyai ciri-ciri yakni berakar serabut, daun berbentuk poligon dan berwarna hijau muda serta kadang-kadang nampak berwarna hijau tua, daunnya menyirip-menjari, pertulang daunnya tidak teratur, batangnya herba dengan mengandung air sekitar 8%, jika sudah berbuah, maka buah waluhnya akan berwarna hijau dan apabila buahnya sudah tua maka buah akan berbuah warna menjadi kekuningan/total seluruh buah tuanya berwarna kuning cerah. Buah waluh menempel pada tangkai buah dan kadang-kadang letak tangkai buahnya berada pada bagian ketiak daun. Bunga waluh berwarna kuning, tergolong bunga majemuk, dan bila buah waluh masih pentil (muda) warna buahnya hijau dengan permukaan kulit buahnya loreng putih. Bakal bibit waluh yang baik yaitu berasal dari biji tanaman induk dewasa yang benar-benar produktif dan terbukti menghasilkan buah yang lebat tiap masa tanamnya.

Cara Menanam Waluh Organik

Seperti pada tanaman umumnya, budidaya waluh organik agar berbuah lebat dan menguntungkan bagi petani harus mengikuti beberapa prosedur yang terencana dalam penanaman, yakni meliputi proses pemilihan bibit/benih waluh yang unggul, pengolahan lahan, proses tanam waluh tepat guna, perawatan secara intensif, hingga kepada proses pemanenan buah waluh secara berkala. Berikut ini langkah-langkah yang harus ditempuh untuk melakukan budidaya tanaman waluh secara organik agar cepat berbuah.

1. Penyiapan dan Pemilihan Benih Waluh

Untuk budidaya waluh secara organik dan menguntungkan bagi petani, biasanya dilakukan dengan cara memperbanyak tanaman secara generatif melalui biji. Cara mengetahui calon bibit waluh yang baik adalah mempunyai pangkal buah yang kecil namun buahnya besar dan warna kulit buahnya cerah. Biarkan buah waluh tersebut masak di pohonnya hingga kulit buahnya berwarna kuning cerah. Setelah buah masak, kemudian buah dipetik lalu diamkan selama 7 malam. Setelah 7 hari pendiaman, lalu buah dibelah menjadi beberapa bagian dan dikerok/ambil bijinya, kemudian masukan ke dalam wadah baskom atau sejenisnya, lalu biarkan selama satu malam.

Selanjutnya yaitu mengayak biji waluh yang sudah dikerok tersebut pada air mengalir hingga selaput lendir yang menyelubunginya hilang, pastikan bahwa biji waluh benar-benar bersih. Untuk mempermudah pengelupasan selaput, campurkan halus abu sekam padi yang sudah dibakar pada benih rendaman tersebut. Pada saat pengayakan lakukan pula proses pemilihan bibit (sortasi). Dalam sortasi biji, maka pilihlah biji yang tenggelam, tidak hanyut atau berada pada permukaan air (mengapung). Selanjutnya jemurlah biji waluh tersebut pada terik matahari selama dua hari hingga biji benar-benar kering. Setelah biji dijemur, selanjutnya mengemas biji waluh ke dalam botol kaca yang bersih. Simpan biji tersebut selama 1-3 bulan sebelum ditanam untuk menghilangkan masa dormansinya (masa istirahat pada biji). Benih yang disimpan dengan baik mampu bertahan selama 1 - 2 tahun bahkan bisa lebih.

Sehari sebelum menanam waluh dilakukan, sebaiknya siapkan benih dengan cara direndam dalam air hangat selama 2-4 jam kemudian letakkan di kain basah dan lembab. Selama penyimpanan benih pada kain basah selama  72 jam (3 hari), biasanya akan tumbuh tunas-tunas (biji mengalami proses perkecambahan), dan benih waluh siap untuk ditanam di lahan terbuka secara langsung.

2. Pengolahan Lahan Tanam Waluh Secara Organik

Langkah awal dalam pengolahan tanah untuk menanam waluh yakni membajak tanah perkebunan atau sawah dengan menggunakan alat berat (traktor) atau dengan bantuan hewan ternak seperti kerbau dan sapi. Bajak dan bolak-balikkan tanah sedalam 20 - 30 cm. Pada kondisi tanah di bawah pH 6 (pH tanah asam), maka berikan kapur atau dolomit 1-2 ton per hektar lahan, tergantung tingkat keasaman (pH) tanah di daerah tersebut. Campurkan pupuk kandang dengan tanah hasil bajakan tersebut, dan diamkan selama 1-2 Minggu sebelum biji waluh yang sudah berkecambah ditanam.

Langkah berikutnya yaitu membuat bedengan dengan lebar 1 meter, dan tinggi 20-30 cm, panjang bedengan disesuaikan dengan luas lahan yang ada. Jarak antar bedengan satu dengan bedengan lainnya berkisar 35 - 40 cm (sesuaikan kebutuhan). Tutup masing-masing bedengan dengan mulsa plastik. Perlu diperhatikan bahwa kegunaan mulsa plastik untuk mempertahankan kelembaban tanah, karena buah waluh amat baik jika ditanam pada musim hujan menuju kemarau namun ketercukupan cahaya matahari harus penuh sepanjang hari.

Langkah selanjutnya yaitu membuat lubang tanam pada permukaan mulsa dengan diameter 10 cm. Setiap bedengan dibuat dua baris lubang tanam, dengan jarak antar lubang baris dan larikan yakni 40 cm. Kemudian masing-masing lubang tanam diberikan pupuk kandang/kompos (sebaiknya campuran antara pupuk kotoran kerbau/kambing/sapi dengan kotoran ayam dengan perbandingan 1:1). Masing-masing lubang tanam diberi 1 - 1,5 kg atau setidaknya 1/2 wadah rantang. Setelah masing-masing lubang tanam diberi tambahan pupuk kompos/kandang, biarkanlah lahan selama 1 minggu. Sebagai catatan, untuk kebutuhan pupuk kandang/kompos dalam 1 hektar lahan tanam waluh yakni berkisar antara 20 - 35 ton/hektar lahan.

3. Penanaman Benih Waluh Organik

Benih biji waluh yang sudah berkecambah dan bertunas sebaiknya segera langsung ditanam di lahan terbuka yang ada cahaya matahari. Langkah pertama yaitu memasukan 1 biji ke dalam lubang tanam kemudian tutup lubang dengan tanah disekitarnya. Pembenaman biji di dalam lubang tanam jangan terlalu dalam agar biji cepat tumbuh, yakni sebaiknya setinggi 0,5 - 2 cm. Biasanya setelah umur tanam benih 7 hari atau lebih, biji sudah nampak tumbuh dan bertunas agak lebih tinggi. Apabila ada biji yang tidak tumbuh, lakukan segera penyulaman biji susulan agar tanaman yang tumbuh menjadi lebih seragam.

4. Perawatan Budidaya Buah Waluh Organik


Tanaman Waluh Kuning
Tanaman Waluh Kuning, Foto Original Dibidik Oleh: guruilmuan.blogspot.com


Perawatan tanaman waluh semestinya dilakukan secara tepat, benar, intensif dan berkelanjutan merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil panen waluh organik yang cepat berbuah lebat. Pada usia tanam 6-7 hari, sebaiknya kontrol tanaman waluh, kemudian segera lakukan penyulaman dengan biji baru apabila terdapat biji yang tidak tumbuh, tunas akar dan daun rusak atau tanaman mati/layu akibat kadar air tanah tidak optimal. Apabila terdapat rumput-rumput liar (gulma) terutama pada umur 3 - 4minggu segera cabut dan koret tuntas hingga pada akarnya, lalu buang dan bakar gulma tersebut. Pada usia 3 minggu setelah tanam, umumnya daun sudah muncul banyak, maka berikan pupuk tambahan berupa pupuk organik cair (POC).

Pupuk organik cair (POC) dibuat dari kotoran hewan ternak seperti kambing atau sapi yang telah matang dicampur dengan air bersih. Komposisi campuran 1 kg kotoran kambing/sapi dengan 1 Liter air. Campuran tersebut harus didiamkan selama satu minggu supaya terjadi ferementasi kimiawi. Selanjutnya, berikan pupuk cair (POC) yang sudah encer tersebut dengan cara menyiram atau menyemprotkannya pada masing-masing lubang tanaman dan bagian organ tanaman. Kebutuhan pupuk cair  1 Liter khusus untuk per 1 meter persegi lahan yang tersedia.

Untuk memperoleh buah waluh cepat berbuah lebat dan menguntungkan maka dapat ditempuh dengan cara membantu tanaman waluh agar dapat melilit dengan rapih pada rumah-rumahan buatan dari batang kayu, selain itu, petani juga dianjurkan untuk membantu melilitkan tanaman waluh secara berkala setiap hari. Ini adalah cara terbaik agar tanaman timun yang telah dibudidaya lebih produktif dan menghasilkan buah lebat serta menguntungkan. Cara lain juga dapat membiarkan tanaman waluh melilit pada permukaan tanah, namun buah-buah waluh yang sudah terbentuk dapat diberikan alas dari jerami padi supaya buah yang masih pentil (muda) tidak mudah busuk akibat suhu dan keadaan air di sekitar tanaman yang tidak menentu.

5. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman pada Waluh

Hama dan penyakit tanaman yang sering kali muncul dan menyerang organ tanaman waluh sangat beragam. Melihat hal ini tentunya menjadi kewaspadaan bagi para petani untuk segera sigap dalam menangani masalah tersebut. Dikenal istilah oteng-oteng atau cacantal yaitu jenis hama menyerang pada organ daun waluh dan mengakibatkan daun menjadi rusak, atau bahkan menyebabkan tumbuhan berangsur-angsur layu kemudian mati mendadak. Hama lain seperti ular tanah, yang merusak struktur batang tanaman sehingga kerap kali batang tanaman terputus. Untuk menangkal kedua jenis hama ini biasanya menggunakan biopestisida yang terbuat dari ekstrak gadung dan kipait dengan dicampuri air kencing kelinci. Hama wereng hitam serta ulat daun juga menyerang organ daun sehingga terkadang daun menjadi berlubang (bopeng), bahka struktur daunnya menjadi rusak dan nampak menggulung atau layu.

Adapun penyakit yang kerap kali muncul dan menyerang tanaman waluh seperti; busuk daun, tepung putih, antraknosa, busuk buah, serta bercak daun. Penyakit tersebut mampu ditanggulangi dengan kultur teknis berupa penerapan rotasi tanaman dan pembuangan secara manual bagian organ tanaman yang terkena penyakit tersebut secara berkala.

6. Kegiatan Panen dan Pemasaran Buah Waluh Organik

Buah waluh umumnya mulai tumbuh secara baik pada usia 20-25 hari setelah tanam awal, dan mulai berbuah setelah usia tanam 60 hari bahkan bisa lebih tergantung dari pemberian pupuk dan yang lainnya. Panen pertama buah waluh dilakukan setelah umur 80 hari ke atas. Pemanenan dilakukan secara bertahap 1 - 2 bulan. Panen dilakukan setiap hari, dan biasanya dapat memetik buah waluh yang sudah siap panen 1 - 6 buah dalam 1 pohon.

Produktivitas buah waluh yang baik mencapai 20 - 30 ton per hektar lahan tanam. Panen waluh dilakukan dengan cara memetik buah menggunakan pisau, kemudian buah dimasukan ke dalam karung ataupun keranjang (bakul) yang terbuat dari bilah bambu tipis yang dianyam. Pemanenan sebaiknya dilakukan saat sore hari, agar keesokan harinya buah waluh dapat langsung di jual di pasaran. Buah waluh yang sudah dipanen diletakkan pada tempat yang sejuk dan kering. Sesaat sebelum pendistribusian hasil panen waluh ke pasaran, buah waluh di pack atau dimasukkan ke dalam karung dan langsung antar ke pasar tempat konsumen yang membelinya secara langsung.

Demikian panduan dan penjelasan lengkap tentang: "Cara Budidaya Waluh Organik dari Biji Agar Cepat Berbuah Lebat dan Menguntungkan Bagi Petani".Semoga apa yang disampaikan di atas memberi banyak manfaat. Mari menaman berbagai macam jenis tanaman buah dan sayur di sekitar tempat tinggal kita. Selamat mempraktekkan cara menanam waluh secara baik dan benar. Salam budidaya.

Artikel Terpopuler

Cara Budidaya WALUH Organik dari Biji Agar Berbuah Lebat dan Menguntungkan Bagi Petani
4/ 5
Oleh

Hallo Sobat Petani

Suka dengan Artikel di Atas? Silakan Berkomentar

2 komentar

April 19, 2017 at 7:23 AM Delete

Hallo pak Handi, salam kenal untuk anda.
Terimakasih pak sudah membaca artikel tulisan saya tentang tatacara menanam walu yang baik dan benar sehingga hasil panennya lebih berkualitas. Thanks so much.

Reply
avatar